PROFIL SMA STELLA DUCE 2 YOGYAKARTA SEMBOYAN Unggul, Mandiri, Ceria  MAKNA LOGO Jantung hati : (Sumber) Semangat belarasa dari Yesus yang tersalib,semangat dasar spiritualitas Suster-suster CB, yang memulai dan mendirikan sekolah Tarakanita di seluruh Indonesia. Bintang dengan seberkas sinar : Semangat belarasa yang menyinari dan meresapi seluruh proses pendidikan Tarakanita yang menuntun setiap langkah dan tindakan civitas Tarakanita. Warna biru muda dan tua : Menunjuk dua generasi yaitu generasi muda dan tua Warna kuning : Kesucian dan kemurnian SEJARAH SINGKAT SMA Stella Duce 2 Yogyakarta merupakan sekolah khusus putri yang diselenggarakan oleh Tarekat Suster-suster Cintakasih Carolus Borromeus (CB) dan dikelola oleh Yayasan Tarakanita. Secara hukum SMA Stella Duce 2 Yogyakarta berdiri pada tanggal 19 Juli 1989 yang merupakan alihfungsi dari SPG Stella Duce Yogyakarta yang sudah berdiri sejak tahun 1949. Keuntungan utama dari latar belakang pendidikan SPG tersebut adalah bahwa nilai-nilai didaktis yang diwariskan oleh budaya SPG masih tertanam dalam interaksi guru-siswi sehingga setiap relasi guru-siswi dilandasi oleh semangat pendidikan. Konsep "akrab tanpa lupa jarak" selalu ditanamkan dalam relasi guru-siswi di sekolah ini. Sejak berdiri sampai sekarang, SMA Stella Duce 2 Yogyakarta berstatus DISAMAKAN. Berdasarkan Petikan keputusan yang dilakukan oleh Badan Akreditasi Sekolah/Madrasah (BAP S/M) Provinsi DIY tanggal 22 November 2008 No 22.01/BAP/TU/XI/2008, SMA Stella Duce 2 Yogyakarta mendapat predikat akreditasi A. Lokasi SMA Stella Duce 2 Yogyakarta adalah di Jl. Dr. Sutomo 16 Yogyakarta, berada menyatu dengan penduduk (kurang lebih 500 meter dari jalan raya), agak jauh dari pusat perekonomian kota Yogyakarta (1 km dari Jalan Solo, 2 km dari Jl. Malioboro). Dengan demikian, walaupun berada di pusat kota , SMA Stella Duce 2 Yogyakarta sangat kondusif untuk belajar. SEJARAH AWAL Suster-suster Cinta Kasih Carolus Borromeus (Suster-suster CB) datang ke bumi Nusantara pertama kali pada tanggal 7 Oktober 1917 di Batavia. Kedatangan Suster-suster CB ke Nederlands Indie (sebutan Indonesia waktu itu) tidak langsung dapat dilaksanakan karena situasi dunia yang sedang dilanda Perang Dunia I. Padahal Tarekat CB telah mengikat kontrak dengan Yayasan Carolus tanggal 2 September 1915, artinya kedatangan Suster-suster CB terlambat 3 tahun. Suster-suster CB baru dapat berangkat ke bumi Nusantara tanggal 22 Juni 1918 menggunakan Kapal Frisia dilanjutkan dengan Kapal Vondel melalui jalur laut utara yang dirasa aman yaitu Norwegia, USA, Jepang. Setelah kurang lebih 6 bulan berlayar, mereka tiba di Indonesia 7 Oktober 1918 jam 6.00 WIB bertepatan dengan hari raya Pesta Rosario. Kesepuluh Suster-suster CB yaitu Moeder Alphonsa de Groot, Sr. Hermana Linder, Sr. Justa Niekerk, Sr. Ambrosina Steenvoorden, Sr. Gratiana Eskens, Sr. Lina Leenen, Sr. Ignatio Hermans, Sr. Isabella Noorden, Sr. Chrispina Bosman, dan Judith de Laat. Untuk sementara mereka tinggal di Susteran Ursulin Weltevreden di JI. Pos 2 Jakarta. Suster-suster CB berkarya pertama kali di Rumah Sakit RKZ (Roomsch Katholiek Ziekenhuis) yaitu R.S. Sint. Carolus sekarang. Namun dalam perkembangannya pelayanan dalam bidang kesehatan ini kurang memihak kepada rakyat pribumi karena memberikan pelayanan terutama kepada orang Eropa. Hal ini menimbulkan kekecewaan, karena tidak sejalan dengan misi awal yaitu Asal Tuhan dimuliakan dan sesama diabdi. Perkembangan umat Katholik di Yogyakarta sangat menggembirakan sesudah kedatangan Pastor van Driesssche,SJ dan Pastor F. Strater SJ, oleh sebab itu dirasakan perlunya karya misi di bidang perawatan. Pimpinan misi di Indonesia minta pimpinan Suster-suster CB di negeri Belanda untuk mewujudkan maksud tersebut. Maka diajukan suatu permohonan kepada pimpinan Tarekat di Maastricht. Permohonan tersebut ditolak, karena dikhawatirkan pengalaman yang kurang memuaskan di Batavia akan terulang di Yogyakarta, di mana keberpihakan terhadap rakyat kecil dilupakan. Meskipun pihak terekat belum menentukan sikap, bahkan menolak permohonan tersebut, namun atas prakarsa Ir. J. Schmutzer mulai dibangun gedung rumah sakit yang kemudian diberi nama Onder de Bogen (RS. Panti Rapih ).Dalam perkembangannya Tarekat CB menyetujui untuk berkarya di RS. Onder de Bogen dengan syarat perawatan untuk orang pribumi/rakyat biasa diutamakan, tidak seperti di Jakarta. Realisasinya Tarekat CB mengirim 5 orang suster yang akan mengabdikan diri dalam karya kesehatan yaitu Moeder Gaudentia Brandt, Sr. Ignatia Lemmens, Sr. Simona v.d. Broek, Sr. Judith de Laat , Sr. Ludolpha de Groot. Mereka tiba di Yogyakarta tanggal 31 Januari 1929.Untuk sementara mereka tinggal di biara Suster-suster OSF di Kidul Loji. Pada tanggal 24 Agustus 1929 rumah sakit diberkati oleh Mgr. Van Velsen,SJ. Sejak diberkati mulai banyak pasien masuk baik dari kalangan atas misalnya bangsawan kraton Yogyakarta maupun rakyat biasa. Tidak jarang pasien dirawat tanpa dipungut beaya karena kondisi ekonominya, sehingga kepercayaan masyarakat semakin besar. Selama 11 tahun kedatangannya di Indonesia, karya tarekat terbatas pada karya kesehatan. Memang karya pendidikan pertama telah dimulai di Bengkulu pada tanggal 10 Agustus 1929 yaitu mengelola sebuah HCS (Hollandsch Chineesche School). Sedangkan sampai tahun tersebut Tarekat CB di Yogyakarta identik dengan karya kesehatan karena memang belum mempunyai karya pendidikan. Namun rupanya roh hati para pemudi cukup memberikan dorongan untuk mencari lebih lanjut apa karya tarekat. Pada tanggal 26 Januari 1933 masuklah 3 orang gadis Jawa pertama sebagai postulan bersama 2 gadis Indo Belanda yaitu Agnes Soewarti ( Sr. Ivonne,CB), Theodora Poedjijati (Sr. Marie Johanna,CB), Yosephine Sabinah (Sr. Theresella,CB), Toontje Henriete Herbig (Sr. Aloysio,CB) dan Marie Elizabeth Groen (Sr. Dympha,CB). Tidak lama kemudian disusul oleh Christine Satimah (Sr. Xaverio,CB) dan Floriberta Samilah (Sr. Bernardia,CB) yang menjadi novis tanggal 2 Februari 1934. Sejak itu tarekat sudah punya 3 suster pribumi yang arah karyanya ke bidang pendidikan, karena merupakan alumni Kweekschool Mendut yang merupakan sekolah calon guru terkenal waktu itu. Keberhasilan Suster-suster CB dalam mengelola RS. Onder de Bogen mendorong F. Strater SJ selaku pimpinan Yayasan Kanisius menawarkan karya pendidikan pada tahun 1935 yaitu sekolah China di Loji Kecil dan Standaardschool di Bumijo. Pimpinan tarekat menerima tawaran Yayasan Kanisius, karena sebenarnya tarekat tidak hanya berkarya dalam bidang kesehatan saja seperti pada awal berdirinya tarekat. Tarekat ingin lebih masuk ke hati rakyat lewat karya pendidikan. Apalagi melihat pengalaman yang menggembirakan yang diperoleh pastor-pastor SJ dalam dunia pendidikan antara lain kontak batin dengan murid-murid, penanaman nilai kristiani dan suburnya benih panggilan. Hal itu semakin mendorong tarekat untuk berkarya dalam dunia pendidikan. Selain itu Suster-suster CB di Yogyakarta telah mempunyai 3 Novis yang berlatar belakang pendidikan guru. Dalam surat Sr. Gaudentia Brandt,CB (anggota DPU) kepada Vikaris Apostolik Batavia Mgr. Willekens,SJ. tertanggal 2 Agustus 1935 dinyatakan bahwa tarekat menerima tawaran Yayasan Kanisius sehingga tarekat akan mempunyai karya pendidikan di Yogyakarta. Sekolah pertama yang dikelola oleh Suster-suster CB adalah HCS di Loji Kecil sebenarnya lebih tepat disebut School voor Chineesche Leerlingen yaitu sekolah untuk anak Tionghoa. Sekolah tersebut mulai tanggal 1 September 1935 dikelola oleh Sr. Stella Hulsman,CB dan Sr. Marie Johanna,CB. Murid muridnya sebagian besar anak Tionghoa yang kurang mampu dan kurang perhatian, serta nakal. Dari 100 muridnya hanya ada seorang yang katolik, namun pelajarannya dibuka dan ditutup dengan doa katholik. Setelah murid belajar di sekolah tersebut mereka menjadi anak yang baik, maka banyak orang tua tertarik dan ingin menyekolahkan ke sekolah di Loji Kecil. Pada tanggal 1 Januari 1938 secara resmi sekolah tersebut dialihkan dari Yayasan Kanisius ke Tarekat CB dalam hal pengelolaannya. Bersamaan dengan itu tarekat berhasil membeli tanah milik bangsawan kraton di Dagen guna persiapan tempat menampung murid yang semakin meningkat. Tahun 1939 gedung sekolah di Dagen sudah dapat dipakai. Tahun itu juga Sr. Stella Hulsman,CB pindah ke Lahat, sehingga karyanya diteruskan olah Sr. Godelieve,CB Sr. Olaf van den Berg, CB.Sekolah yang kedua adalah Volkschool dan Meisjes Vervolgschool di Bumijo. Selain mengelola sekolah tersebut, Suster-suster CB juga mengelola sekolah Standaardschool di Ganjuran yang didirikan oleh Ir. J. Schmutzer. Pada zaman pendudukan Jepang praktis sekolah-sekolah tutup, bahkan gedung-gedung sekolah digunakan untuk dapur umum demi kepentingan perang Jepang. Di sisi lain cita - cita untuk mendirikan sekolah menengah khususnya di Yogyakarta justru muncul pada zaman Jepang ini. Cita-cita itu muncul dari 2 orang suster tokoh pendidikan yaitu Sr. Laurentia de Sain dan Sr. Catharinia Liedmieir,CB ketika mereka sedang bertugas jaga di kamp tawanan Muntok Bangka. Pembicaraan keduanya kemudian terkenal dengan istilah "Rencana 10 tahun karya kongregasi di bidang pendidikan" khususnya di Yogyakarta. Kota itu dipilih karena merupakan ladang panggilan yang subur. Bila tarekat hanya menangani karya kesehatan, kemudian ada guru atau lulusan tingkat sekolah atas merasa terpanggil, tentu tidak akan masuk dalam Tarekat CB. Meskipun perang telah selesai, cita-cita tersebut tidak mudah untuk dilaksanakan karena banyak hal yang dipikirkan antara lain guru, sarana dan prasarana serta biaya. Sejak tahun 1946 pimpinan Tarekat CB mulai menjajagi kemungkinan untuk memperluas pengabdian dalam pendidikan yaitu mendirikan sekolah menengah. Pada awalnya untuk merealisasikan cita-cita tersebut Suster-suster CB bekerja sama dengan Suster-suster OSF di mana Suster-suster CB menyediakan tenaga pengajar sedangkan suster - suster OSF menyediakan gedungnya. Gedung yang dimaksud adalah di JI. Sumbing milik Sustersuster OSF bekas Europesche Lagere School. Gedung ini nantinya menjadi milik Tarekat CB. Realisasi cita-cita itu terwujud bukan dalam kondisi negara yang aman namun sebaliknya serba sulit karena agresi militer Belanda I dan 11. Suster-suster CB berani memulai karya pendidikan sekolah menengah, merupakan suatu tindakan yang membutuhkan keberanian dan tanggung jawab. Sekolah menengah yang didirikan yaitu SMP Stella Duce pada tanggal 1 Juli 1947 yang dirintis oleh Sr. Marie Tarcicius, CB, Ibu Oey lily, Bapak Kho Ping Djan. SMU Stellla Duce yang semula merupakan SMA Kanisius bagian putri (bagian putranya adalah SMU De Britto) mulai dibuka tahun 1948 namun ditutup akibat agresi Belanda II, baru dibuka kembaii bulan Agustus 1949 menempati gedung di JI. Sumbing No I (JI. Sabirin). Sekolah ini dirintis oleh Sr. Catharinia Liedmieir CB dan Sr. Bernardia CB. Sedangkan SPG Stella Duce mulai dibuka16 Mei 1949 yang dirintis oleh Sr. Catharinia Liedmieir CB dan Romo Drs. H. Loeff, SJ. Semula sekolah ini menempati rumah milik Dr. Yap di JI. Code (kini RRI), namun kemudian pindah ke JI: Sumbing berbagi lokal dengan SMU Stella Duce. Tahun 1961 SPG pindah ke LapanganTrenggono. Pada 1952 Tarekat CB telah memiliki banyak sekolah, namun secara hukum masih di bawah Yayasan Kanisius. Menghadapi kenyataan tersebut maka Tarekat CB mulai memikirkan keadaan sekolah - sekolah yang terpisah-pisah. Sekolah perlu disatukan tidak hanya secara administratif saja namun keseluruhan, sehingga sekolah -sekolah itu benarbenar dikelola secara penuh, maka perlu didirikan badan atau yayasan resmi. Usaha pendirian yayasan dirintis oleh Sr. Catharinia Liedmieir CB clan Pastor van ThieI,SJ. Usaha tersebut terwujud tanggal 29 April 1952 yaitu didirikanlah Yayasan Tarakanita. Nama Tarakanita dari bahasa Sansekerta yang berarti Bintang Pembimbing, identik dengan Stella Duce. *) Disarikan dari buku Kenangan Usia Emas Yayasan Tarakanita Wilayah Yogyakarta. VISI SMA Stella Duce 2 Yogyakarta sebagai bagian dari Yayasan Tarakanita bercita-cita menjadi lembaga pendidikan yang didasari oleh relasi yang berbelarasa untuk membantu peserta didik membentuk diri menjadi pribadi yang utuh --bermoral baik, berkemampuan intelektual memadai, cerdas, mandiri, kreatif, terampil--, memiliki wawasan kebangsaan dan semangat berbelarasa terhadap sesama manusia terutama yang miskin, tersisih, dan menderita. MISI - Ambil bagian dalam misi pendidikan Yayasan Tarakanita
- Membantu peserta didik agar dalam dirinya tumbuh semangat berbelarasa tinggi terhadap sesama terutama yang miskin, tersisih, dan menderita
- Menciptakan suasana belajar yang kondusif agar peserta didik mampu mengenali dan mengembangkan potensi dirinya sendiri secara optimal.
- Mengupayakan terjadinya komunikasi dan kerjasama yang harmonis antara sekolah, orangtua, dan masyarakat dalam rangka mengoptimalkan pendampingan terhadap peserta didik.
- Memberikan perhatian khusus terhadap pendidikan nilai khususnya nilai-nilai Kristiani agar terbentuk watak baik, sikap jujur, adil, dan berbudi pekerti luhur.
- Membantu peserta didik agar memiliki kemampuan akademik yang memadai untuk bersaing dalam seleksi masuk perguruan tinggi.
- Mendampingi peserta didik agar mampu mengembangkan semangat persaudaraan sejati dengan melatih diri untuk mengelola perbedaan di antara mereka.
- Membantu peserta didik agar memiliki keterampilan khusus di luar akademik sehingga mampu ambil bagian dalam kehidupan bermasyarakat.
- Membantu peserta didik agar mampu ambil bagian dalam gerakan penegakan keadilan, perdamaian, dan penyelamatan lingkungan hidup.
|